Colour of Indonesia

Just another WordPress.com weblog

mimpi buruk penyelaman yang paling ditakuti.

Bagaimana melakukan identifikasi dan bertahan ketika Anda harus berurusan dengan mimpi buruk penyelaman yang paling ditakuti.

Penyakit dekompresi (DCS – Decompression Sickness), atau yang dalam bahasa Inggris-nya lebih dikenal sebagai “The Bends” adalah sebuah penyakit yang dapat terjadi sebagai akibat dari aktifitas di lingkungan bertekanan tinggi seperti pada pekerja konstruksi bawah permukaan yang bertugas membuat terowongan bawah air, fondasi jembatan di kedalaman air (lingkungan kering namun bertekanan tinggi) dan penyelaman (lingkungan basah namun bertekanan tinggi).

Theory DCS sudah ditemukan hampir tiga abad sebelum ditemukannya peralatan penyelaman modern SCUBA (Self Contained Underwater Breathing Apparatus). DCS pertama kali dijelaskan oleh seorang ahli Fisika pada abad ke-17, Robert Boyle yang mengamati munculnya gelembung udara di mata seekor ular Viper yang sengaja ia tempatkan di ruangan vakum. Theory DCS akhirnya dapat dilengkapi oleh para ilmuwan yang telah lama meneliti dan mengobservasi gejala – gejala yang dialami oleh pekerja konstruksi jembatan dan terowongan. Para pekerja itu tercatat bekerja beberapa jam sehari dalam lingkungan bertekanan tinggi (Hyperbaric). Kondisi ini sangat mirip dengan yang dialami penyelam saat melakukan penyelaman.

Mekanisme terjadinya DCS sebenarnya sangat sederhana. Jaringan tubuh kita secara alamiah mengandung gas terlarut untuk berbagai tujuan secara biologis. Dalam keadaan normal di ketinggian permukaan air laut, tekanannya sama dengan tekanan lingkungan normal sebesar kurang lebih 1 Bar (14.7 Psi). Ketika menyelam menggunakan SCUBA maka dia menghirup udara yang bertekanan lebih tinggi dari tekanan atmosfer di permukaan. Melalui proses pelarutan gas dalam tubuh kita, maka tekanan udara terlarut dalam tubuh kita meningkat secara progressif seiring bertambahnya kedalaman yang notabene juga bertambahnya tekanan Atmosfer Abosolute (ATA). Kenaikan tekanan akibat bertambahnya kedalaman ini akan menaikkan tekanan parsial tiap – tiap gas yang membentuk udara yang kita hirup. Dalam hal ini komposisi udara yang sehari hari kita hirup di permukaan adalah 78% Nitrogen (N2) + 21% Oksigen (O2) + 0.93% Argon (Ar) + 0.04 Carbon dioksida (CO2) + 0.03% Gas gas mulia seperti Neon (Ne), Helium (He), dan lain sebagainya. Namun komposisi itu biasanya di bulatkan menjadi 80% N2 + 20% O2.

Jika tekanan di permukaan adalah 1 Atm = 1Bar = 14.7 Psi dan tekanan parsial gas pembentuk udara pernapasan di permukaan adalah 80% N2 + 20% O2, maka jika tekanan bertambah 1 Atm menjadi 2 Atm (Setiap penambahan kedalaman 33 feet (10 meter) air laut tekanan bertambah 1 Atm), udara di dalam tangki SCUBA tekanan parsialnya menjadi (80% N2 x 2) + (20% O2 x 2) = 160% N2 + 40% O2. Dari hitungan tersebut maka terlihat jelas bahwa semakin dalam seseorang menyelam dengan SCUBA maka tekanan gas terlarut (dalam hal ini N2 dan O2) dalam tubuhnya semakin besar pula. Pembuluh darah di paru paru penyelamlah yang pertama kali akan terpengaruh dengan gas bertekanan tinggi ini. Selanjutnya aliran darah akan membawa gas gas bertekanan tinggi ini ke seluruh jaringan tubuh. Darah dan jaringan – jaringan tubuh yang banyak dialiri darah cenderung lebih cepat menyesuaikan dengan tekanan sekitar karena mampu menyerap dan melepaskan gas secara cepat, namun jaringan – jaringan yang lebih sedikit dialiri darah seperti jaringan adiposa (lemak) dan tulang akan menyerap gas tersebut lebih lambat menyerap gas tersebut demikian pula juga lebih lambat melepaskannya. Pada saat penyelam naik ke permukaan terjadi penurunan tekanan, nah proses yang tadi sudah berlangsung sekarang dibalik. Kita jadi bernapas dengan udara bertekanan semakin rendah namun tekanan gas di dalam tubuh kita masih bertekanan tinggi. Sehingga jaringan jaringan di tubuh kita akan melepaskan gas secara berlebih melalui proses difusi aliran darah di paru paru. Proses ini sama dengan saat kita membuka botol minuman berkarbornasi. Saat botol masih tertutup rapat, tekanan di dalam botol lebih tingi dari tekanan atmosfer, namun saat tutup botol kita buka maka tekanan di dalam botol turun secara tiba tiba menjadi sama dengan tekanan atmosfer di sekitarnya. Maka gas karbonasi yang tadinya larut dalam cairan minuman berubah menjadi gelembung – gelembung gas karena terjadi pengembangan gas berlebih akibat berkurangnya tekanan secara tiba tiba. Nah jika itu terjadi di dalam tubuh kita maka kita terkena Decompression Sickness (DCS) atau penyakit akibat berkurangnya tekanan secara tiba tiba.

Dari penjelasan proses di atas, maka jelaslah bahwa seorang penyelam sangatlah penting untuk naik ke permukaan secara perlahan (kecepatan yang aman secara teoritis adalah tidak boleh lebih dari 15 meter/menit) dan sangatlah penting juga bagi penyelam untuk melakukan Deco Stop / Safety Stop di kedalaman 5 meter selama 3 menit. Ini berdasar perhitungan matematika seorang ahli fisika awal abad 20 yang bernama J.S. Haldane yang menjelaskan bahwa penyerapan dan pelepasan gas oleh proses difusi di dalam tubuh manusia bersifat eksponensial seiring dengan bertambahnya waktu. Teori ini makin disempurnakan oleh para ilmuwan yang lain seiring dengan bertambah majunya peralatan penguji teori ini.

Berdasar teori Haldane dan penelitian yang dikembangkan para Ilmuwan, dibuatlah sebuah tabel penyelaman yang menentukan beberapa parameter waktu yang aman bagi penyelaman berada di kedalaman serta perhitungan sisa gas terlarut di dalam tubuh penyelam ketika di permukaan sebagai dasar perhitungan untuk menentukan lama waktu yang aman untuk penyelaman berikutnya. Batas waktu yang aman untuk penyelaman ini di sebut No Decompression Limit (NDL). Sedangkan penyelaman yang berlangsung tidak melewati batas NDL disebut Penyelaman Tanpa Decompressi.

Namun adakalanya penyelaman dilakukan untuk tujuan tujuan khusus misalnya pekerjaan bawah air (pemasangan pipa, kabel laut, pengelasan konstruksi, dll) yang mengharuskan penyelam berada di kedalaman lebih lama dari NDL, maka penyelaman itu disebut penyelaman dengan decompressi dan tabel yang digunakan adalah Tabel Penyelaman Dengan Decompressi yang prosedurnya lebih rumit dan perlu pelatihan khusus serta seringkali juga menggunakan modifikasi komposisi campuran gas yang digunakan untuk pernafasan penyelam.

Gejala Gejala Yang Harus Diwaspadai
DCS ada dua jenis yaitu DCS tipe 1 (fisiologis) yang paling umum dialami penyelam. Biasanya rasa nyeri, ruam atau kemerahan pada daerah sendi. Siku dan bahu yang paling sering, namun daerah persendian lain pun juga bisa terkena. DCS tipe 2 (neurologis) adalah DCS dengan akibat yang lebih parah karena menyerang sistem saraf pusat (Saraf, Vertebral (tulang belakang), Otak) dan dapat berakibat kematian. Gejalanya termasuk kelelahan yang ekstrim, mati rasa, pusing yang luar biasa hingga kehilangan kesadaran.

Pencegahan
Selalu menyelam dalam batas batas yang diijinkan sesuai sertifikasi tingkat keahlian penyelam yang anda miliki (Untuk jenjang Pemula tidak boleh lebih dari 15 meter). Jagalah kebugaran tubuh anda dan hanya menyelam saat tubuh benar benar sehat dan bugar. Selalu membuat rencana penyelaman sesuai tabel penyelaman dan taati dive plan yang anda buat atau jika anda memakai Dive Computer, taati petunjuk yang ditampilkan di layar dan bunyi alarm peringatan Dive Computer anda. Gunakan peralatan penyelaman SCUBA yang berfungsi baik dan di inspeksi secara berkala oleh orang yang berwenang serta kenalilah satuan satuan ukurannya, karena ada yang menggunakan sistem metrik (PSI / Meter) dan ada yang menggunakan sistem Imperial (Bar / Feet).

Tidak ada teori yang sempurna. Sekalipun penyelaman sudah dilakukan sesuai prosedur keamanan, bukan berarti penyelam 100% aman dari bahaya DCS. Oleh sebab itu sebagai tambahan, seorang penyelam sebaiknya menjalani therapy Hyperbaric Oxygenation (HBO) di dalam Chamber Hyperbaric dengan prosedur Tabel 5 U.S. Navy (Hyperbaric Oxygen Treatment For Pain Only DCS) secara berkala 6 bulan sekali untuk menjamin bahwa tubuh kita benar benar bebas dari sisa sisa gelembung gas. Biasanya di Rumah Sakit Angkatan Laut yang besar pasti memiliki fasilitas ini, bahkan Rumah Sakit yang ada di daerah yang ramai wisata penyelaman juga umumnya menyediakan fasilitas ini. Contohnya RS. Sanglah di Denpasar, Bali.

Selalu Bersiap Diri
Sebelum anda melakukan penyelaman ke suatu daerah, maka ada baiknya anda mencatat nomor nomor telepon penting seperti Fasilitas Chamber Hyperbaric yang terdekat dan cari tahu kesiapannya menerima pasien emergency serta Layanan Evakuasi Medis Darurat. Akanlah sangat bijaksana juga jika sebagai seorang penyelam, anda melengkapi diri anda dengan polis Asuransi khusus penyelam seperti DAN (Diver Alert Network) Insurance. Mengingat biasanya daerah penyelaman ada di daerah yang jauh dan susah dijangkau kendaraan darat, maka jika terjadi keadaan darurat seringkali harus dilakukan evakuasi dengan Helikopter Medis yang tentunya biayanya tidaklah murah, ditambah lagi biaya pengobatan dan perawatan yang juga harus dikeluarkan. Ini bisa mencapai US$ 100.000 (Rp. 1 Milyar). DAN Insurance mengcovernya bahkan sampai penggantian peralatan kita yang hilang akibat kecelakaan penyelaman. Biaya premi asuransi khusus penyelam sangatlah tidak mahal jika dibandingkan dengan rasa aman dan terlindungi yang anda dapatkan sehingga anda bisa menyelam tanpa was was. Sebisa mungkin kita menyelam dengan aman, namun sekali lagi tiada teori yang sempurna. Jangan sampai saat mengalami kecelakaan , kita jadi bangkrut karena harus membayar biaya evakuasi, perawatan dan pengobatan. Saya sendiri melengkapi diri dengan Polish DAN Insurance Prefered Plan (Type 2) dengan pertanggungan hingga senilai US$ 250.000.

Semoga paparan singkat ini bisa memberi penambahan wawasan bagi kawan – kawan yang awam dan non penyelam serta juga sebagai penyegaran kembali bagi rekan rekan sejawat penyelam. Penjelasan yang lebih detail mengenai DCS akan anda dapatkan saat mengikuti pendidikan sertifikasi penyelam. Pelajaran tentang DCS ini adalah pelajaran dasar yang wajib dikuasai oleh setiap penyelam, oleh karenanya diberikan sejak jenjang pemula.

Salam Bahari !

Michael Antony Ugiono

Disarikan dari :
– Ilmu Kesehatan Penyelaman dan Hiperbarik, Drs. Med. R. Rijadi S, Phys., Lembaga Kesehatan Kelautan (LAKESLA) TNI-AL, 2009.
– The Encyclopedia of Recreational Diving, Professional Association of Diving Instructor (PADI), USA.
– Rescue Diver Manual, Professional Association of Diving Instructor (PADI), USA.
– Dive Master Manual, Professional Association of Diving Instructor (PADI), USA.
– Buku Petunjuk 1 Star Scuba Diver CMAS – Indonesia, Dewan Instruktur Selam Indonesia, Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI)

Penulis adalah seorang Penyelam yang sudah membukukan lebih dari 500 kali penyelaman dalam 14 tahun sejak pertama kali mengenal Scuba Diving.
Jenjang sertifikasi :
– PADI Advanced Open Water Diver No. 0907AK3819
– PADI Rescue Diver No. 0911AO8898
– POSSI – CMAS 2 Star Scuba Diver No. 2020346
– dan akan menyelesaikan Sertifikasi PADI Divemaster pada bulan Juli 2010.

Pemegang Polish Diver Alert Network (DAN) Insurance Prefered Plan (Type 2) No. AA 975 9J000 0910

Pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Kesehatan Penyelaman Pengurus Daerah POSSI (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia) Jawa Tengah selama 2 periode (2000 – 2002 dan 2002 – 2004)

Official Tim Selam Jawa Tengah untuk PON tahun 2000 di Perairan Pantai Pasir Putih, Situbondo, Jawa Timur.

Quotes :
“Scuba diving is itself a hazardous sport. To do it without any training is tantamount to playing Russian roulette with a loaded revolver.”
– ROBERT F. BURGESS, The Cave Divers –

Scuba diving, from the beginning, had an air of dangerous allure. Every landlocked schoolboy knew of its intriguing hazards: the bends, which caused a diver’s veins to fizz with carbonated blood until he died a ghastly, percolating death; and rapture of the deep, which took away his reason, filled his heart with false contentment, and drew him down into the ocean gloom.
– STEPHEN HARRIGAN, Water and Light –

Most of the problems in scuba diving come from ourselves.
-JIM CROCKETT, The Why-To of Scuba Diving –

“SCUBA diving is sensual. To breathe underwater is one of the most fascinating and peculiar sensations imaginable. Breathing becomes a rhythmic melody of inhalations and exhalations. The cracks and pops of fish and crustaceans harmonize with the rhythmic chiming of the bubbles as you exhale. Soon, lungs act as bellows, controlling your buoyancy as you achieve weightlessness. And, as in your dreams, you are flying. Combine these otherworldly stimuli and you surrender completely to the sanctuary of the underwater world.”
– TEC CLARK, forward, Karen Berger’s Scuba Diving –

“Water – the ocean – is our most natural environment.
We are born naked from the miniature ocean of the mother’s womb.”
– JACQUES MAYOL, 1927-2001 –

“DIVE, DIVE, DINE!”
– Michael Antony Ugiono –

Di LAKESLA Surabaya setelah menjalani pemeriksaan dan therapy rutin HBO Tabel 5 U.S. Navy berkala untuk penyelam.
Diving Is A Life, Anything Else Is Only Surface Interval
Penulis melepaskan Surface Marker Buoy (SMB) untuk tanda posisi exit penyelam agar kapal dipermukaan mengetahuinya. Selain itu juga sebagai pelampung tempat pegangan penyelam saat melakukan Deco Stop sehingga tidak perlu berpegangan padai terumbu karang yang cenderung merusak terumbu karang. Ayo kita jadi ECO DIVER yg peduli pada kelestarian terumbu karang. Lengkapi dirimu dengan SMB disetiap penyelamanmu dan latihlah skill melepaskan SMB karena kalau salah prosedur malah bisa mencelakakan penyelam karena terbawa naik dengan cepat karena terjerat tali SMB.
Penulis (atas) melakukan Deco Stop dengan berpegangan pada SMB (Surface Marker Buoy), lebih ecofriendly daripada berpegangan pada terumbu karang
Contoh Informasi yang ditampilkan oleh Dive Computer. Selain informasi visual, Dive Computer juga memberikan peringatan dengan bunyi alarm jika penyelam melewati batas parameter profil penyelaman yang aman. Dengan Dive Computer kita dapat memperpanjang waktu penyelaman kita karena kemampuannya menghitung penyelaman Multi Level secara real time sesuai perubahan kedalaman penyelaman yang dilakukan.
Contoh Tabel Penyelaman yang digunakan untuk menghitung waktu penyelaman yang aman. Tabel seperti ini wajib dkuasai penggunaannya. Saya selalu membawanya dalam saku rompi Buoyancy Control Device untuk back up jika Dive Computer saya malfunctioned saat penyelaman.
Tabel Selam juga sudah ada yang elektronik. Saya selalu membawanya karena mudah sekali penggunaannya seperti menggunakan kalkulator. Dapat digunakan untuk menghitung penyelaman Multi Level, yang tidak bisa dihitung dengan tabel manual (Michael /30062010)

One comment on “mimpi buruk penyelaman yang paling ditakuti.

  1. dive bali
    April 26, 2014

    Excellent post. I was checking constantly this weblog and I’m inspired!
    Very helpful information specially the last section🙂 I care
    for such information a lot. I used to be seeking this particular information for a long time.
    Thank you and good luck.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 30, 2010 by in About, Diving.
%d bloggers like this: